Bagaimana rasanya ketika sedang mencari tempat perlindungan sementara setelah melakukan “kejahatan kecil”, tetapi hanya dihadapkan dengan sebuah toko kelontong tua yang kumuh? Namun, tak disangka, toko kelontong itu ternyata memiliki sebuah keajaiban–dapat menghubungkan masa lalu dan masa kini–lewat secarik surat. Itulah inti cerita dari novel “Keajaiban Toko Kelontong Namiya” (ナミヤ雑貨店の奇蹟) (2012) karya Keigo Higashino.
Menceritakan tentang tiga berandal amatiran, Kohei, Shota, dan Atsuya, yang menyelinap ke Toko Kelontong Namiya guna bersembunyi setelah mencuri. Awalnya tidak ada yang aneh, hingga datanglah secarik surat dari sebuah kotak susu di belakang toko kelontong, entah siapa pengirimnya. Mereka membaca dengan seksama surat itu, kemudian terheran-heran dengan isinya. Curhatan sekaligus permintaan saran. “Gawat, seseorang menemukan kita,” pikir mereka. Akan tetapi, tak ada seorang pun di luar.
Salah satu diantara mereka mencoba ‘iseng’ membalas surat itu. Terkejut, mereka malah menerima balasan dari surat yang mereka tulis tadi, dan anehnya surat itu menyinggung soal peristiwa-peristiwa masa lampau, sekitar tahun 1980-an. Para berandalan itu akhirnya sadar, jika mereka sedang berkomunikasi dengan seseorang dari masa lalu–lewar media surat. Dengan alur maju-mundur, novel ini mengajak kita untuk menjelajahi peristiwa-peristiwa di masa lampau, dari Jepang yang memboikot Olimpiade Uni Soviet th. 1980, The Beatles konser di Jepang, kebangkitan ekonomi Jepang, sampai masa-masa ketidakstabilan ekonomi th. 1990. Kita pun diajak memahami problematika para pengirim surat ke Toko Kelontong Namiya yang hidup di masa itu.